Letter to Upasara
Upa, aku sepenuhnya menyadari darimana tenaga-tenaga itu datang. Yang tidak kusadari adalah menghentikannya barang sedetik. Langit terasa terlalu bergemuruh, awan-awan bertubrukan, dan kilat datang tidak berhentinya. Upa, ketika aku kecil dulu, pernahku bermimpi, bahwa aku akan menjadi seorang ksatria. Dan mimpi itu masih juga datang terutama di malam-malam yang panjang, dimana aku menemukan diriku dalam dingin kamarku. Upa, ada percikan-percikan api dikedinginan itu, dan aku tidak pernah tau, kapan percikan itu padam. (FeG)
Letter to Upasara
Upa, aku percaya bahwa hidup adalah mencari satu tenaga hidup, bukan mencari satu gobang atau dua kepeng, bukan mencari mobil yang nyaman, atau rumah yang megah. Upa, aku bukannya anak-anak kebanyakan yang berlari memperebutkan semua itu, aku mencari sesuatu yang hilang di ujung sana. Masih kamu ingat dengan cerita Coelho tentang pengembala yang menemukan yang mencari harta terpendam? Ketika ia pergi, bekerja dengan sebaik mungkin dan berhenti mencari ketika ia menemuka Fatima. Upasara, aku bukan Coelho, bukan pengembala itu, tapi bisa jadi aku juga berada tak jauh dari situ. (FeG)
Letter to Upasara
Upa, seribu kali banyak aku berdusta, dan seribu kali banyaknya aku gagal. Bukan seribu kali itu yang bikin aku takut, yang aku takuti adalah, mungkin suatu hari, aku akan berhenti mencoba. Dan jika waktu itu tiba, aku akan berdiri di ujung jalan gelap itu, dan menangisi diriku sendiri. Tapi Upa, percayalah, kamu akan kuajak. (FeG)
leave a comment